Suara Alam (DEWA 19 - 1997)
Aku duduk di sebuah tanah lapang ketika fajar senja memadu satu
di jingga langit, sambil bercengkrama dengan alam, sementara manusia
beristirahat dengan damai di bawah tudung tidurnya. aku terbaring di
atas rumput hijau dan melakukan semedi tentang persoalan-persoalan
hidup:
"Apakah Kebenaran adalah Keindahan? Apakah Keindahan adalah Kebenaran?
Dan dalam pikiranku kutemukan diriku terpencil dari umat manusia, dan
khayalanku membongkar tirai materi yang menyembunyikan telaga sukmaku.
Jiwaku mengembara menyusuri keghaiban alam, dan telingaku terbuka oleh
bahasa keajaibannya.
setelah aku duduk terpengkur, aku merasakan
semilir angin melintasi ranting-ranting pohon, dan aku mendengar suara
merintih seperti erangan anak yatim piatu yang tersesat.
"Mengapa engkau berkeluh kesah, hai sepoi angin yang lembut?" aku bertanya.
Dan angin sepoi-sepoi itu menjawab,
"Karena aku telah datang dari kota yang bercahaya dengan panas mentari,
namun benih-benih wabah penyakit dan pencemaran telah mencabik-cabik
jubah kebesaranku. Pantaskah kamu menyalahkanku karena berduka cita?"
Kemudian aku menatap pada wajah-wajah bunga yang ternodai oleh air
mata, dan aku mendengarkan rintihan mereka yang lembut. Aku bertanya,
"Mengapa kalian menangis, bungaku yang indah?"
Salah satu bunga mengangkat kepalanya yang lembut dan berbisik,
"Kami menangis karena manusia akan datang untuk memotong kami, lalu menawarkan kami untuk dijual di pasar-pasar kota."
Bunga yang lain menambahkan,
"Di waktu malam, ketika kami layu, kami dilemparkan ke atas tumpukan
sampah. Kami menangis karena tangan Manusia yang bengis merenggut kami
dari taman."
Dan Aku mendengar aliran sungai meratap seperti seorang janda yang meratapi kematian suami dan putra-putrinya dan aku bertanya,
"Mengapa engkau menangis, aliran sungaiku yang murni?"
Dan aliran sungai itu menjawab,
"Karena aku dipaksa untuk pergi ke kota di mana Manusia menodai
kesucianku dan menolakku dengan angkuh untuk menjadikanku minuman yang
menguatkan, dan menjadikanku sebagai tempat penampungan sampah,
mencemari kemurnianku, serta mengubah kebaikanku menjadi dekil."
Dan aku mendengar kicau burung yang merintih, dan aku bertanya,
"Mengapa kalian menangis, burung-burungku yang cantik?"
Salah satu dari burung itu terbang mendekat, hinggap di sebuah ranting dan bertutur,
"Anak-anak Adam akan segera datang dengan senapan-senapan mereka yang
mematikan dan membidikkannya ke tubuh kami, seolah kami adalah monster
yang mengancam kehidupan mereka. Saat ini kami memilih daun-daun yang
dapat menaungi kami sebagai tempat perlindungan, karena kami tak tahu
kemana lagi harus lari dari kemurkaan manusia. Kematian mengintai kami
kemanapun kami pergi."
Sekarang matahari terbit dari
belakang puncak-puncak pepohonan dengan pelangi. Aku memandang
keindahan ini dan bergumam pada diriku sendiri.
"Mengapa manusia harus menghancurkan apa yang telah di bangun oleh Alam?"
